Prabu Duryudana mengumpulkan para pinisepuh negara Astina guna membahas surat yang dikirim Raden Arjuna kepadanya. Adapun dalam surat itu Arjuna meminta untuk sementara waktu negara Astina diserahkan kepadanya sebagai sarana berkumpulnya kembali para istri Madukara yang telah pergi meninggalkannya karena mereka menyangsikan bahwa Pendawa mempunyai hak atas bumi Astina. Setelah para istri Madukara berkumpul kembali, negara Astina akan diserahkan kembali kepada Kurawa. Prabu Baladewa menyarankan untuk mengabulkan permintaan itu. Patih Sengkuni pun mengamini usulan ini dengan catatan harus dibuat perjanjian tertulis.
Adapun Resi Durna menolak pendapat Prabu Baladewa dan Patih Sengkuni. Ia pun menyarankan untuk tidak menyerahkan negara. Seperti biasa, Prabu Duryudana pun menyetujui usulan Sang Resi. Bahkan menjanjikan hadiah sepertiga bumi Astina kepada Resi Durna apabila ia bisa berhasil membunuh Raden Arjuna.
Tak berapa lama Raden Arjuna pun sampai ke hadapan Prabu Duryudana untuk meminta jawaban dari surat yang telah ditulisnya. Sementara itu Resi Durna yang tengah terbayang-bayang hadiah sepertiga bumi Astina apabila bisa menghabisi Raden Janoko, segera menghunus Keris Cundo Manik dan menikam Janoko dari belakang. Maka gemparlah pisowanan negara Astina.
Tak terima Janoko dibunuh dengan cara yang tidak kesatria, Prabu Baladewa segera meninggalkan pisowanan. Maksud hati pergi ke Amarta untuk mengabarkan kejadian yang baru saja terjadi di Astina, namun di tengah perjalanan berjumpa dengan Adipati Karna. Setelah diberitahu peristiwa yang baru saja terjadi di Astina, Adipati Karna pun mencari Pendeta Durna untuk menuntut balas.
Akan tetapi malang bagi Adipati Karna, iapun harus meregang nyawa di tangan Pendeta Durna. Bagaimanakah kelanjutan kisah wayang kulit Durna Picis yang dibawakan oleh dalang almarhum Ki Hadi Sugito in? Sumonggo dipun download sinambi leyeh-leyeh.
Link download :
Ki Hadi Sugito - Durna Picis.mp3 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8




